Pages

Sabtu, 18 Februari 2012

kunjungan


Sempat kehilangan kata-kata ketika aku sampai dirumah seorang teman. Sejenak aku lupa bagaimana caranya bernafas. Kaget! Ya, kaget sekali ketika sebuah rumah yang masih berlantai tanah dan berdinding papan itu terpampang dihadapanku. Rumah “sederhana” itu adalah rumah temanku. Tak banyak perabotan mewah disana. Bahkan bisa ku bilang tak ada sama sekali. Kursi-kursi dan meja-meja terbuat dari kayu yang sudah renta.

That in my life I will see 
An end to hopelesness of giving up of suffering 
And we all stand together this one time 
Then no one will get left behind 
Stand up for life 
Stand up for love

Perabotan yang lain seperti almari, rak dan bifet pun sama. Tua dan renta diselimuti debu dari lantai tanah. Satu-satu bagian dari rumah itu yang dibangun menggunakan semen adalah kamar mandinya. Itupun juga masih sederhana. Aku memang baru pertama kali berkunjung kesana jadi aku tidak menyangka kalau keadaan temanku seperti itu. Selama ini saat kuliah dia terlihat biasa bahkan terlihat seperti anak orang berada. Tapi hari ini aku tahu dan sadar bahwa dia orang yang kurang beruntung.
Rumah temanku memang berada dipelosok desa. Jauh dari kota. Saat perjalanan kesana sempat ngeri juga karena harus melewati pekatnya  hutan, hamparan sawah dan beberapa jembatan yang membelah sungai. Aku nggak bisa banyangin bagaimana lelahnya perjalanan yang harus ditempuh oleh temanku itu saat berangkat kekampus. Dengan rute jalan yang sulit seperti itu butuh stamina yang ekstra tentunya. Apalagi kalau kita masuk kuliah jam 7 pagi. Lagi-lagi aku kehilangan nalarku untuk membayangkan jam berapa ia harus berangkat dari rumah. Parahnya lagi temanku itu tidak naik motor tetapi angkot. Hhh…padahal angkot desa itu tidak sebayak angkot kota. Langka!
Dari sana aku jadi belajar untuk lebih mensyukuri keadaanku. Ternyata masih banyak orang-orang yang lebih tidak beruntung dibandingkan aku. Dan kebetulan dia adalah temanku. Teman satu kelas yang hampir setiap hari belajar bersama. Mendengarkan dosen bersama. Kuliah bersama. Lebih dari itu aku belajar untuk meningkatkan semangat. Selama ini aku merasa sering mengeluh. Merasa selalu kurang. Maka dengan segala kemudahan dan fasilitas yang ada aku harus lebih baik dari sekarang.
Terima kasih teman kau telah mengajariku untuk bersyukur dan semangat untuk menuntut ilmu. Keterbatasanmu membuka mataku betapa indahnya hidupku. Terimakasih teman.
And I believe 


1 komentar:

  1. Aku pengen berkunjung juga... Keren sekali ... semangat!!!

    BalasHapus