Pages

Rabu, 01 Februari 2012

Persimpangan Hati II


Lembaran Hati Dua

Koko masih berkutat dengan hatinya.  Rasa sakit itu memang belum sepenuhnya hilang. Sulit baginya untuk menerima kenyataan ini. Kenyataan bahwa bunga-bunga cinta dihatinya harus gugur. Meninggalkan dirinya dalam kehampaan dan kesepian yang teramat dalam. Serpihan keberanian yang ia kumpulkan dan dia rangkai untuk menyatakan isi hatinya ternyata  sia-sia. Karena keberanian itu tidak pernah benar-benar menampakkan dirinya.
Ia harus mengalah pada keadaan. Sebuah keadaan yang memaksa ia untuk sekali lagi mengurungkan keberaniaannya demi menyatakan cinta. Maka perasaan itu sekarang masih terpendam. Koko  sendiri tidak tahu sampai kapan ia mampu untuk menyimpannya. Perasaan cinta yang tersembunyi dikedalaman hatinya.
Meskipun rasa kecewa itu masih bersarang dihatinya tapi koko terus berusaha untuk menepisnya. Ia mencoba untuk menerima keadaan ini. Ia tidak mau menyalahkan siapapun. Ia tidak akan menyalahkan kiki yang telah menjadi pacar gadis yang ia cinta. Ia juga tidak akan menyalahkan eka yang telah hadir di kehidupannya dan membuat getaran-getaran cinta dihatinya. Ia pun tak akan menyalahkan dirinya yang tidak berani mengakui perasaannya. Tidak bisa untuk mengungkapkan isi hatinya. Tidak juga menyalahkan keadaan yang tidak bersahabat dengannya.  Apalagi menyalahkan Tuhan yang telah menanamkan perasaan cinta dihatinya. Rasa cinta pada seorang gadis yang meski kini menjadi milik orang lain. Tidak! Tidak ada yang perlu disalahkan. Koko mencoba untuk berbesar hati. Ia tidak akan melawan hatinya. Karena ia tahu ia tak akan bisa. Ia juga tidak akan mengalah untuk hatinya karena ia juga tahu tidak ada yang harus merasa kalah dan tersakiti. Ia hanya akan menerima hatinya. Hati yang utuh. Hati yang masih mencinta. Cinta pada eka. Tapi kali ini ia sadar. Ia mengerti bagaimana ia harus menempatkan perasaannya. Ia mengarahkan hatinya untuk mencintai eka sebagai sahabat. Tak lebih.
“tttteeeeetttttttt…………………………………………”
Bunyi bel tanda pulang  meraung keseluruh penjuru sekolah. Koko kaget mendengarnya. Ia tersadar dari lamunannya. Sudah sejak jam terakhir tadi koko memang tidak konsentrasi dengan matapelajaran yang tengah mereka pelajari.
“koko kita mau langsung pulang atau main kemana dulu nih?” tiba-tiba saja Eka sudah berdiri disamping koko. Sementara koko nampak  sibuk mencari-cari sesuatu. Ia bingung dimana letak pena-nya. Dicari dilaci tidak ada. Dibawah meja juga tidak ada. Koko juga sudah sempat menanyakan pada teman sebangkunya. Tapi teman sebangkunya tidak tahu dimana  keberadaan pena tersebut. Sebenarnya koko tidak terlalu peduli dengan sebuah pena. Karena kalau pun harus hilang dia toh mampu untuk membelinya lagi. Namun yang membuat pena itu spesial adalah karena pena itu pemberian Eka. Koko tak mau menghilangkannya.
“ini yang kamu cari?” eka tampak tersenyum sambil mengulurkan sebuah pena.
“oh iya, dimana kamu menemukannya?”  koko bertanya.
“tuh tadi dibelakang, terjatuh ke lantai, kalo nggak salah itu pena yang pernah aku kasih ya?”
“hehe iya, makasih ya, sudah memberi ku pena ini, pena-nya nyaman kalau dibuat nulis, hehehe makasih juga sudah menemukannya?” koko berkata sambil tersenyum.
“ya sama-sama, jadi kita mau pulang atau main kemana dulu nih?” eka mengulangi pertanyaannya.
“kita langsung pulang saja ya?” aku lagi nggak ada duit nih buat main?” koko menjawab pertanyaan Eka sambil mengenakan tasnya.
“ya udah yuk… ntar keburu hujan langit udah mendung banget tuh”
Mereka berdua pun akhirnya keluar kelas. Meninggalkan beberapa anak-anak yang masih asik ngobrol didalam kelas. Sebagian dari mereka ada yang masih menunggu temannya atau karena ada kegiatan ekstrakurikuler.
“hai tungguin!” sebuah suara yang tak asing menghampiri telinga mereka. Keduanya lalu menengok kebelakang. Tampak teman mereka yang bernama Rara tergopoh-gopoh datang menghampiri koko dan eka.
“ih, kok aku ditinggal sih!” rara tampak terengah-engah. Mukanya sedikit memerah karena merasa sebal dengan koko dan eka.
“nggak kok, ini juga baru keluar kelas” eka membela diri.
“iya kita baru aja keluar dan rencananya kamu mau kami tunggu didepan gerbang” koko menimpali.
“oh iya deh, sori soalnya kalian kan biasanya nunggunya didepan kelas, jadi kita mau langsung pulang nih atau mau main dulu” rara yang sudah mendapat penjelasan tampak mengerti dan langsung nyerocos sesuai kebiasaanya. Cerewet.
“hemmm……… kita langsung pulang saja ya soalnya kayaknya bentar lagi mau hujan” eka menjawab.
“oh gitu ya? ya udah deh nggak apa-apa kapan-kapan lagi aja mainnya, yuk kita kemon
“Yuk” eka dan koko menjawab serentak.
***
Siang itu langit memang kelam. Awan-awan hitam nan kelabu menggantung megah diatap bumi. Mengalahkan teriknya matahari. Koko, rara dan eka tampak gelisah menunggu angkot yang tak kunjung datang. Maklum ini jam pulang sekolah jadi sudah dipastikan angkot-angkot pada penuh. Maka  untuk mendapatkan angkot yang masih kosong mereka harus bersabar. Biasanya mereka bertiga santai saja menunggu angkot lama-lama karena mereka biasa bercanda. Tapi kali ini karena diteror oleh hujan yang sepertinya bakal deras sekali mereka jadi agak tegang sehingga lupa kebiasaan bercandanya.
“haduh… gimana nih angkotnya dari tadi penuh terus mana mau hujan lagi” rara mengeluh.
“iya bagaimana ini?” eka merespon keluhan rara.
“sabar… bentar lagi juga dapet! Tuh kan kita naik yang itu saja yuk” koko dengan bijak menenangkan mereka berdua.
“ayo ntar keburu hujan, desek-desekan nggak apa-apa deh” rara bersemangat menyambut angkot yang baru saja berhenti didepan mereka.
Ketika mereka akan naik ternyata angkot yang penuh itu juga menurunkan beberapa penumpang. Alhasil angkotnya jadi agak kosong. Mereka saling melempar senyum bahagia. Setidaknya mereka bisa duduk dengan nyaman sambil ngobrol tanpa harus merasakan derita tergencet oleh penumpang lain. Koko, eka dan rara memang terbiasa pulang bersama. Alasannya sederhana karena jalan kearah rumah mereka sama. Sampai SMA ini ketiganya memang masih menggunakan angkot sebagai alat transportasi mereka. Eka dan rara belum diizinkan untuk membawa sepeda motor sendiri. Sementara koko hanya punya satu sepeda motor itu pun digunakan oleh bapaknya untuk bekerja.  
“teman-teman kita udah masuk semester genap nih, bentar lagi mau ujian nasional. Huh sumpah aku deg-deg an banget, kalo nggak lulus gimana coba?” rara mengawali pembicaraan.
“ah jangan pesimis gitu! Kita pasti bisa kok” eka menepis keraguan rara.
“ya benar jangan pesimis dulu, yang penting sekarang kita siapin semaksimal mungkin buat ntar kita ujian nasional” koko menimpali.
“hhh…………”rara menghela nafas lalu melanjutkan keluhannya. “jujur aku takut banget sama ujian nasional besok, mana otakku pas-pasan gini, baru belajar bentar aja ini otak udah panas banget. Rasanya kayak mau meledak. Huh!” Rara lagi-lagi menggerutu. Mengeluhkan nasib dirinya yang tidak sepandai koko dan eka.
“jangan gitu dong rara. Semangat dong! Hem… sebenarnya aku punya ide nih, tapi kalian mau nggak ngejalaninnya, emm… gimana kalo mulai besuk kita adain belajar kelompok? Koko kan jago banget tuh fisika sama matematikannya. Sementara kamu rara, diem-diem kamu mapel biologi kan jago. Gimana?” eka mengutarakan idenya.
“walah, aku matematika sama fisika juga nggak lebih kok dari kalian, tapi aku setuju aja kalo kita adain belajar bareng” ucap koko.
“hem… belajar kelompok ya? oke juga tuh. Dari pada aku les diluar yang mahalnya selangit. Mending aku belajar sama kalian ya? hehehe……  selain lebih murah pastinya seru abis. Aku setuju sekali. Kapan kita mulainya?” rara berkomentar.
“kalo itu kita pikirin nanti, udah dulu ya aku udah mau turun nih, besuk kita bicarain lagi” eka yang rumahnya sudah dekat segera mengambil ancang-ancang untuk turun dari angkot.
“ya hati-hati” koko dan rara serentak menjawab.
***
Angkot pun berjalan pelan. Merayap diantara kemacetan lalu lintas. Angkot yang ditumpangi oleh koko dan rara sudah tidak sesesak tadi. Didalamnya hanya ada lima orang penumpang. Dua diantaranya adalah koko dan rara. Jika hanya berdua dengan koko seperti ini rara jadi hilang cerewetnya. Ia lebih banyak diam. Hubungan mereka memang kaku jika tidak ada eka diantara mereka yang membuat suasana menjadi sedikit cair.
“rara kira-kira kapan ya kita akan mulai belajar bareng, bagaimana kalo besuk?” koko mencoba untuk membuka pembicaraan.
“eh… iya boleh” rara yang biasanya menjawab pertanyaan orang dengan beratus-ratus kata kini hanya menjawab pertanyaan koko dengan secuil kata saja.
Koko yang tidak terbiasa bicara dengan rara pun tidak tahu lagi harus bertanya apa. Rara tampak nya juga tidak memberikan umpan untuk melanjutkan pembicaraan. Maka koko pun akhirnya diam. Perjalanan mereka diliputi dengan kebisuan.
Langit tampaknya pelan-pelan mulai melepaskan bebannya. Gerimis mulai membasahi bumi. Titik-titik air itu membawa kedamaian. Membawa berkah kepada semua tanaman. Juga pada udara yang seharian dipenuhi polusi. Gerimis akan melarutkan semua bentuk senyawa yang melayang-layang diudara. Menjadikannya bersih dan segar kembali. Koko yang menyadari itu mengambil nafas dalam-dalam. Ia ingin merasakan segarnya udara yang telah dibersihkan oleh gerimis. Hingga  tak terasa ia sudah mau sampai dirumahnya.
“rara aku turun dulu ya?” koko pamit pada rara.
“ya, hati-hati ya?” ucap rara.
Sejak tadi rara hanya duduk terdiam melihat keluar jendela. Ia agak tergagap ketika   mendengar suara koko.
Setelah angkot menurunkan koko. Rara kini duduk sendirian. Didalam angkot tersebut hanya tinggal tiga orang. Angkot kini benar-benar longgar. Tadi saat koko turun ia sempat mencuri pandang pada wajah koko. Ia juga sempat menatap mata lelaki itu. Hatinya agak bergetar. Tapi segera ia tepis. Ia tak mau merasakan getaran yang tak biasa itu. Ia mencoba untuk mengusirnya. Rara tak mau jatuh cinta. Maka dalam perjalanan pulangnya ia bersenandung lagu-lagu bahagia agar hatinya terbawa suasana. Bahagia! Ia juga mulai memikirkan ide dimana dan kapan belajar kelompok mereka bertiga akan dilaksanakan. Rara berpikir lalu tersenyum-senyum sendiri diiringi lagu bahagia yang ia senandungkan.   
Semua tentang mu selalu membekas di hati ini
Cerita cinta kita berdua akan selalu…
Semua kenangan tak mungkin bisa
Kulupakan ku hilangkan
Tak kan biarkan cinta kita berakhir
ku tak rela
ku tak ingin kau lepaskan semua ikatan tali cinta
 yang telah kita buat selama ini……………………
(vierra, semua tentang mu)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar